Sunday, May 20, 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Saat ini wisata kuliner dipenuhi dengan berbagai varian makanan, mulai dari camilan, kue, sampai makanan khas nusantara. Berbagai pengusaha kuliner memutar otak untuk menyajikan makanan yang berbeda dan memiliki inovasi, hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian konsumen terhadap jenis makanan yang akan diproduksi. Semua makanan itu dijual dengan harga yang berbeda-beda, disesuaikan dengan bahan makanan yang digunakan. Untuk itu orang-orang pasti memilih makanan yang bisa membuat perut kenyang dengan harga yang tidak menguras kantung. Makanan yang mudah dijangkau dengan harga yang relatif murah dan dapat membuat perut kenyang adalah lelenggangan.
Bisnis makanan merupakan bisnis yang senantiasa bertahan dan terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan kuliner masyarakat. Ada beberapa hal yang membuat bisnis ini terus tumbuh.Pertama, makanan merupakan suatu kebutuhan masyarakat baik sebagai kebutuhan kuliner atau jajanan maupun kebutuhan pokok.
Kami tertarik untuk menjalankan bisnis ini , dengan mengusung nama” Lelenggangan ”. kami mencoba menawarkan  sebuah konsep yang unik bagi para penggemar telur dengan menyediakan berbagai macam kreasi makanan.

B.     Peluang Usaha
Setelah saya melakukan penelitian ditempat makan yang menyediakan lenggang, mereka hanya menyediakan beberapa menu yang monoton dan tempat yang sederhana. Sehingga peluang usaha untuk mendirikan usaha ini sangat besar. Kelebihan dari “Lelenggangan” adalah kami menyediakan pelayanan yang memuaskan. Selain itu, sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan, kami akan menyediakan berbagai variasi menu lelenggangan.



C.    Permasalahan Yang Timbul
Setiap memulai usaha pasti akan timbul permasalahan, entah itu permasalahan yang berasal dari dalam usaha itu sendiri maupun dari luar usaha. Dalam menjalankan usahanya,  “Lelenggangan” ini menemui berbagai permasalahan, di antaranya  adalah :
Dari segi konsumen, mereka mungkin sudah terbiasa dengan masakan telur yang itu itu saja, sehingga diperlukan promosi yang efektif efisien untuk menarik minat konsumen.
Dari segi karyawan, karena usaha ini memerlukan berbagai variasi rasa, maka diperlukan imajinasi dan kreativitas dari para koki.



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Profil Usaha
1.    Nama Usaha                       : Lelenggangan
2.    Alamat Usaha                     :Jl. H.S. Ronggowaluyo Teluk Jambe Karawang 41361 Telepon : (0267) 641177, 641367, 642582 Fax : (0267) 641177, 641367, 642582 Website : http://www.unsika.ac.id
3.    Bidang Usaha                     : Kuliner
4.    Logo Usaha

5.    Visi
Menjadi Makanan Lenggang Terfavorite dan Berdaya Saing.
6.     Misi                                   
Ø  Cepat, pembuatan lelenggangan yang relatif cepat.
Ø  Unik, citra rasa yang unik dengan perpaduan telur dan topping.
Ø  Tradisional, kemasan khas indonesia.
Ø  Terjangkau, harga yang bersahabat dengan kantong.
7.    Slogan
LENGGANG LENGGONG, LELENGGANGKEUN !!




B.     Aspek Perencanaan Usaha
1.      Aspek Pasar
Sebelum memulai usaha, dan mengetahui layak atau tidaknya usaha ini, pertama akan dilakukan kajian aspek pasar dengan menganalisis pasar potensial yang akan dimasuki oleh produk yang dihasilkan. Dengan demikian akan diketahui keberadaan pasar potensial yang dimaksud. Untuk mengetahui pasar potensial kami akan menganalisis permintaan dan penawaran.
a.    Permintaan
Apabila dicermati, permintaan terhadap makanan yang murah dan membuat perut kenyang serta perubahan menu semakin meningkat seiring dengan tingkat kejenuhan konsumen terhadap makanan yang itu-itu saja. Dalam hal kuliner, umumnya konsumen ingin mencoba hal yang baru, yang harus diperhatikan agar konsumen tetap setia membeli produk kami adalah rasa yang enak dan sesuai dengan selera masyarakat Karawang. ”Lelenggangan” selalu berusaha menjaga kualitas produk agar konsumen yang menyukai rasa produk kami tetap menyukai cita rasa produk  dan menjadi konsumen setia dan untuk menjaga tingkat permintaan agar tidak menurun.
b.   Penawaran
Mengingat besarnya peluang dalam usaha kiliner, maka kami akan memberikan penawaran yang menarik bagi konsumen. Sesuai dengan konsep utama kami yaitu dengan menyediakan makan dengan bahan dasar telur yang proses produksinya dengan cara di panggang namun dengan menggunakan wadah daun pisan sehingga akan mengeluarkan bau khasnya.

2.      Aspek Pemasaran
Peran pemasaran dalam suatu usaha sangat penting, sebab pemasaran akan menentukan kelanjutan usaha suatu perusahaan. Kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan dalam pemasaran adalah melakukan segmentasi pasar, menetapkan pasar sasaran, dan menentukan posisi pasar.
a.      Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar berarti membagi pasar menjadi beberapa kelompok pembeli yang berbeda yang mungkin memerlukan produk atau marketing mix yang berbeda pula. Beberapa aspek utama untuk mensegmentasi pasar adalah sebagai berikut:
a)      Aspek Geografis
Secara geografis pasar dapat dikelompokan menjadi beberapa segmen yaitu segmen pasar internasional, nasional, lokal, dalam dan luar kota. Memusatkan pemasaran hasil produksi pada satu atau beberapa daerah geografis seringkali memberikan manfaat tersendiri bagi jenis-jenis usaha bisnis tertentu.
Sehingga lelenggangan memusatkan pemasaran pada lokasi yang dinilai memiliki penduduk yang banyak atau tempat yang memiliki pengunjung yang banyak, sehingga kami memutuskan untuk membuka usaha di depan Universitas singaperbangsa karawang, yang dinilai memiliki peluang besar dalam berbisnis.
b)      Aspek Demografis
Karena sasaran kami adalah semua kalangan baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia, maka “lelenggangan” berada di sekitar kampus UNSIKA yang merupakan tempat sasaran segmentasi pasar kami.
c)      Aspek Psikologis
Yang termasuk dalam faktor psikogarfis adalah penggolongan sosial, gaya hidup, dan pola konsumsi. Ketiga faktor psikografis tersebut mempengaruhi kebutuhan, pola konsumsi, dan keinginan seseorang untuk memiliki barang dan jasa. Semakin maju kehidupan ekonomi suatu negara maka semakin banyak jenjang pengelompokan golongan sosial penduduknya.
Dengan harga yang terjangkau “Lelenggangan” bisa dinikmati semua kalangan, dari kalangan bawah sampai kalangan atas.
d)     Aspek behavioristic
Produk yang ditawarkan oleh usahawan sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Konsumen akan mencari produk yang diinginkan jika mereka merasa butuh dan ingin untuk membeli serta jika memiliki kesempatan untuk membeli.
Karena produk kami belum berjualan secara offline jadi kami lebih memanfaatkan teknologi yang ada dengan melakukan promosi dengan online atau media soal.
b.      Menetapkan Sasaran Pasar (Targeting)
Targeting adalah melakukan evaluasi keaktifan setiap segmen, kemudian memilih satu atau lebih segmen pasar yang dilayani. Target dari “lelenggangan” mencakup semua kalangan.
c.       Menentukan Posisi Pasar (Positioning)
Penentuan posisi pasar dilakukan setelah menentukan segmen mana yang akan dimasuki, maka harus pula menentukan posisi mana yang akan ditempati dalam segmen tersebut. Posisi pasar dari “Lelenggangan” adalah menciptakan image di benak konsumen sebagai makanan yang mempunyai rasa yang khas dan unik.

3.      Aspek Teknik Dan Teknologi
Setelah dilihat dari aspek pasar maupun pemasaran, bahwa suatu rencana bisnis dianggap layak, tahap yang selanjutnya dianalisis yaitu aspek teknik dan teknologi. Dalam aspek ini terdapat tiga masalah pokok yang dihadapi sebuah usaha, yaitu masalah penentuan posisi usaha, masalah desain dan masalah operasional.
a.    Masalah Penentuan Posisi Perusahaan
Dalam hal ini diputuskan bagaimana hendaknya posisi usaha ditentukan. Keputusan ini mengenai pemilihan strategi berproduksi. Karena usaha ini bergerak di bidang kuliner, maka strategi produksi yang digunakan oleh “Lelenggan” adalah berproduksi ketika ada konsumen yang memesan. Sehingga konsumen akan mendapatkan masakan yang masih hangat untuk dinikmati.
b.    Masalah Desain Produk
Masalah desain akan mencakup perancangan fasilitas operasi yang akan digunakan, seperti kemasan. Kemasan yang kami gunakan disertai dengan logo produk yang kami buat agar membuat konsumen selalu teringat oleh konsumen.
c.     Masalah Operasional
Masalah operasional biasanya timbul pada saat proses produksi sudah berjalan. Meliputi rencana produksi, untuk usaha ini pembuatan lelenggangan sesuai dengan pesanan yang diminta konsumen. Rencana persediaan, untuk persediaan bahan baku, “Lelenggangan” menggunakan metode FIFO, yaitu bahan baku yang pertama masuk maka itulah yang akan pertama diolah sesuai keinginan konsumen. Pengawasan kualitas produk, dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang masih segar dan dengan menjaga kebersihan dalam mengolah bahan baku tersebut, hal ini sangat diperlukan untuk kepuasan konsumen.
d.    Alur Proses Produksi
Dalam melakukan atau menjalankan usaha ini diperlukan alur produksi yang jelas agar usaha dapat berjalan dengan lancar, pada gambar . dijelaskan flowchart dari kegiatan produksi yang dilakukan pada lelenggangan.
Bagan Alur Produksi




e.     Waktu Kegiatan
Usaha D’Galaxy Cokelat kami akan beroperasi selama 12 jam, yakni buka pada pukul 10.00 WIB dan tutup pada pukul 22.00 WIB.
f.     Layout Ruangan
Alat memasak
Bahan-bahan
Letak lelenggangan
Area kosong untuk pemilik usaha
Alat-alat lainnya

4.      Aspek Manajemen
Manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen. Dalam manajemen banyak sekali fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh para ahli, di sini “Lelenggangan” menggunakan fungsi manajemen Jepang (zero defect), dengan uraian sebagai berikut:
a.    Perencanaan (Planning)
“Lelenggangan” memiliki tujuan memenuhi kebutuhan konsumen atas beraneka ragamnya toping, tujuan ini dapat dicapai dengan adanya perencanaan yang matang. Perencanaan yang dibuat “Lelenggangan” yaitu, untuk menarik minat konsumen kami akan melakukan promosi melalui media elektronik. Untuk bahan baku yang digunakan kami akan menyuplai dari pasar tradisional Karawang, tentunya dengan memilih bahan baku yang berkualitas baik. Dan untuk kebutuhan karyawan, akan dilakukan perekrutan yang ketat, hal ini dilakukan agar kami mendapat karyawan yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
b.    Melakukan (Doing)
Berarti melakukan uji coba terhadap perencanaan yang telah dibuat. Dalam perencanaan terdapat tiga poin utama, yaitu promosi, bakan baku dan karyawan. Dalam hal promosi, kami mengunakan media media sosial seperi instagram, line dan WA serta mulut-kemulut. Untuk bahan baku, kami akan melakukan survei pasar untuk menentukan lokasi mana yang menyediakan bahan baku kualitas terbaik dengan harga yang rendah. Untuk karyawan, akan diberikan pelatihan mengenai menu-menu apa yang akan disajikan kepada konsumen, serta mereka akan dites mengenai kreativitas dan imajinasi dalam membuat menu baru.
c.     Pengecekan (Checking)
Berarti pengecekan terhadap hasil dan membandingkan sesuai dengan yang diinginkan. Pengecekan ini lebih ditekankan pada produk yang akan dihasilkan, apakah sudah sesuai standar atau tidak.
d.    Produksi (Acting)
Berarti menindak lanjuti atas apa yang didapat pada proses pengecekan. Apabila terdapat kesalahan pada produk yang sudah melawati proses pengecekan, maka kami akan mengkaji pada bagian mana yang kurang, dan kami akan memperbaiki sehingga tidak merugikan konsumen.

5.      Aspek Sumber Daya Manusia
a)      Aspek Organisasi
 











b)     Uraian Tugas
1.      Pemimpin
Bertanggung jawab atas segala kegiatan usaha demi tercapainya tujuan perusahaan. Memiliki wewenang puncak dan memiliki kewajiban menjadi decision maker atau pengambil keputusan. Pimpinan pada usaha Lenggang adalah pemilik perusahaan yang bersangkutan.
2.      Penjualan dan Administrasi
Bertanggung jawab atas segala kegiatan pemasaran/penjuaalan  agar supaya produk dari unit usaha ini dapat dikenal oleh masyarakat luas dan mendorong mereka untuk mengonsumsi produk yang dibuat. Untuk Bidang Administrasi Bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berkaitan dengan keuangan perusahaan, membuat laporan keuangan setiap 6 bulan sekali, dan menganalisis hasil laporan yang ada agar supaya kondisi keuangan perusahaan tetap stabil dan baik.
3.      Produksi
Bertanggung jawab atas segala kegiatan produksi perusahaan, mulai dari ketersediaan bahan baku, pengolahan bahan baku, sampai dengan mengatur persediaan secara efektif dan efisien.
4.      Bagian Umum
Bertanggung jawab atas segala kegiatan ketenagakerjaan, untuk membantu dan menerima perintah dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dalam perusahaan.

6.      Aspek Hukum
Aspek hukum merupakan aspek yang cukup penting untuk menentukan dan menjamin akan kelangsungan kegiatan usaha. Aspek hukum merupakan legalitas kelangsungan usaha, sedangkan usaha yang sedang berproduksi akan segera terhenti begitu saja atau terhenti perlahan jika produk yang dihasilkan tidak memiliki jaminan hukum.
Jenis badan usaha yang dipilih dalam usaha ini adalah perusahaan perseorangan. Dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat “Lelenggangan” ini di daerah setempat terbagi atas dua bagian, yaitu Izin Usaha dan Izin Lokasi.
a.    Izin Usaha
Dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan izin usaha perdagangan adalah:
1.   Akte pendirian usaha dari notaris setempat
2.   Surat izin usaha perdagangan (SIUP)
3.   Surat tanda daftar perusahaan (STDP)
4.   Nomor pokok wajib pajak (NPWP)
5.   Surat izin tempat usaha (SITU)
b.    Izin Lokasi
Untuk mendapatkan Surat Izin Lokasi Usaha, dokumen-dokumen yang dibutuhkan adalah:
1.   Surat izin usaha
2.   Surat akta tanah
3.   Surat izin mendirikan bangunan
4.   Surat pajak bumi dan bangunan
5.   Surat rekomendasi dari RT
6.   Surat rekomendasi dari tetangga
7.   Surat izin Amdal

8.        Aspek Ekonomi dan Sosial
Dampak aspek ekonomi yang ditimbulkan dari usaha “lelenggangan” adalah sebagai berikut:
Ø  Dapat memberikan uang jajan tambahan kepada mhasiswa  dengan membuka part time bagi mahasiswa. “Lelenggangan”.
Ø  Menggali, mengatur dan menggunakan ekonomi sumber daya alam melalui penggunaan lahan yang efisien dan efektif.
Dampak sosial dengan adanya usaha “Lelenggangan” adalah sebagai berikut:
Ø  Adanya perubahan demografi melalui perubahan komposisi tenaga kerja. Dengan adanya usaha ini, kami dapat meningkatkan partisipasi angkatan kerja dan juga menurunkan tingkat pengangguran yang ada di Karawang.
Ø  Perubahan budaya melalui terjadinya perubahan sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha.

9.        Aspek Politik
Dilihat dari segi politik, usaha kami tidak ada sangkut pautnya dengan politik, yakni partai dan lainnya yang berhubungan dengan politik pemerintahan. Usaha kami adalah usaha murni yang ingin kami kembangkan sendiri tanpa ada sangkut paut dengan dunia politik.

10.    Aspek Lingkungan Industri (Persaingan)
Aspek lingkungan industri lebih mengarah kepada aspek persaingan di mana usaha berada. Masuknya usaha yang sejenis di tempat yang sama akan menimbulkan ancaman bagi usaha yang sudah ada, seperti perebutan pangsa pasar dan perebutan sumber daya produksi yang terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut “Lelenggangan” akan menciptakan perbedaan-perbedaan untuk kedepannya. Seperti, mengadakan acara “Lebih Dekat dengan Lelenggangan”, yaitu berkumpulnya konsumen setia kami dengan pemilik dan semua karyawan, dalam acara tersebut konsumen diperbolehkan bertanya seputar “Lelenggangan” dan memberikan saran serta masukan untuk “Lelenggangan”.

11.    Aspek AMDAL (Lingkungan Alam)
Pendirian “Lelenggangan” ini sesuai dengan alternatif terbaik menurut lokasi, yang secara  tidak langsung akan mempengaruhi masyarakat sekitar lingkungan tempat usaha. Semua usaha pasti akan memiliki dampak terhadap sekitarnya, sehingga setiap usaha tidak terkecuali “Lelenggangan” berkewajiban melaksanakan upaya menyeimbangkan dan mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan.
“Lelenggangan” merupakan usaha dalam bidang kuliner memiliki limbah berupa limbah padat yang berasal dari sisa-sisa bahan makanan. Untuk mengatasi limbah tersebut kami melakukan beberapa upaya, yaitu:
Untuk limbah padat, kami memisahkan antara yang organik dan non organik. Limbah organik akan dimanfaatkan untuk membuat pupuk dan limbah non organik akan dibuang di tempat pembuangan akhir.

12.    Aspek Keuangan
a.         Modal Investasi dan BOP Produk Lelenggangan untuk 1 Tahun
Investasi Awal
Rp 66.187.000
Modal Tetap
Rp 3.075.000
Penyusutan
Rp 415.000
Nilai Residu
Rp 1.000.000
Modal Kerja
Rp 63.112.000
Umur Ekonomis
5 tahun
Penjualan setiap tahun (5 tahun)
Rp 86.400.000

1. Kebutuhan Modal Investasi

A. Modal Tetap (MT)


Peralatan produksi
Rp3.075.000

Jumlah modal tetap
Rp3.075.000


B. Modal Kerja (MK)

Lamanya putaran produksi = 1 tahun

Kebutuhan modal kerja 1 tahun
Rp63.112.000

Jadi Modal Investasi  (MT) + (MK)


Rp 3.075.000 + Rp 63.112.000
=
Rp66.187.000



2. Perhitungan Biaya Operasi Perusahaan (BOP) untuk Periode 1 Tahun

A. Biaya tetap (BT)



Penyusutan

Peralatan
    Rp415.000

Pemeliharaan

Peralatan
Rp143.500

Utilitas

Listrik
    Rp1.200.000

Biaya Umum
     Rp 200.000

Sewa Stand
     Rp 1.500.000

Total Biaya Tetap (TBT)
   Rp3.458.500


B. Biaya Tidak Tetap (BTT)

Asumsi Produksi 30 butir telur ayam per hari

Bahan Baku

Telur Ayam 
Rp22.176.000

Daun Pisang
Rp2.016.000

Lada
Rp1.008.000

MSG
Rp1.008.000

Rp26.208.000

Bahan Penolong

Cabai
Rp2.880.000

Daun Bawang
Rp1.344.000

Bakso
Rp3.600.000

Sosis
Rp2.496.000

Keju
Rp5.040.000

Sauce
Rp2.016.000

Mayonaice
Rp2.496.000

Rp19.872.000

Perlengkapan

Gas LPG
Rp3.600.000

Kemasan
Rp11.088.000

Sendok
Rp1.344.000

Rp16.032.000


Biaya Transfortasi & Umum
Rp1.000.000

Total Biaya Tetap (TBTT)
Rp63.112.000



Jadi Biaya Operasional Perusahaan (BOP)
= TBT + TBTT

Rp66.570.500


3. Perhitungan Harga Pokok Pabrik (HPP)
Dengan menggunakan metode Kalkulasi Bagi, maka HPP dapat dihitung

dengan cara:


HPP = Biaya Operasional Perusahaan (BOP) x Rp.1,-

Jumlah Produksi


        = Rp65.070.500 x Rp.1,-              =
Rp.6.600
/Pcs



4. Analisa Harga Jual Produk (HJP)

HJP = HPP + % Laba yang diharapkan


        = Rp.6.600 + (21% x Rp. 6.600)     =
Rp8.000
/Pcs



5. Analisa Laba Rugi Perusahaan untuk Periode 1 tahun

Nilai Penjualan = 10.800 pcs x Rp. 8.000 =
Rp86.400.000


Biaya Operasi Perusahaan (BOP)               =
Rp66.570.500


Laba Kotor
Rp19.829.500


Pajak Penghasilan 10%
Rp1.982.950


Laba Bersih Setelah Pajak
Rp17.846.550



6. Analisa Break Event Point (BEP)

BEP (Nilai)

                   Total Biaya Tetap (TBT)

=          1 - Total Biaya Tiadak Tetap (TBTT)

Hasil Penjualan


Rp3.458.500

=                1  -  ( Rp63.112.000 :

Rp86.400.000)


Rp3.458.500

                          '1 - 0.73046


=                    Rp3.458.500 :            =
Rp12.831.120

0.26954


BEP (Satuan)


=                     BEP (Nilai)

                     Harga Satuan


                    Rp12.831.120            =
1.604
Pcs

Rp. 8.000


b. Perhitungan Laba Setelah Pajak dan Cashflow
Keterangan
Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3
Tahun 4
Tahun 5
Penjualan
86.400.000
86.400.000
86.400.000
86.400.000
86.400.000
Biaya variable
Biaya tetap non penyusutan
Biaya tetap penyusutan
63.112.000
3.043.500

415.000
63.112.000
3.043.500

415.000
63.112.000
3.043.500

415.000
63.112.000
3.043.500

415.000
63.112.000
3.043.500

415.000
Tota biaya
66.570.500
66.570.500
66.570.500
66.570.500
66.570.500
Laba sebelum pajak
Pajak 10%
19.829.500
1.982.950
19.829.500
1.982.950
19.829.500
1.982.950
19.829.500
1.982.950
19.829.500
1.982.950
Laba setelah pajak (EAT)
Penyusutan
Nilai residu
Modal kerja
17.847.550

415.000
-
-
17.847.550

415.000
-
-
17.847.550

415.000
-
-
17.847.550

415.000
-
-
17.847.550

415.000
1.000.000
63.112.000
Cashflow
18.261.550
18.261.550
18.261.550
18.261.550
82.373.550

c. Analisis Penilaian Investasi

Ø  ARR (Accounting rate of return)
ARR
ARR
ARR
Karena tingkat keuntungan yang di syaratkan sebesar 21%, maka menurut metode ini proyek investasi ini layak, sebab ARR= 53,12% lebih besar disbanding dengan return yang diharapkan = 21%.

Ø  Payback Periode (PBP)
PBP
PBP
PBP  ( 3 tahun 7 bulan 13,2 hari)
Apabila target kembalian investasi 4 tahun, maka investasi ini layak sebab payback periodenya lebih kecil disbanding dengan target kembalian investasi.

Ø  Net Present Value (NPV)

Tahun
Cashflow
DF (21%)
Present value of Cashflow
1
2
3
4
5
18.261.550
18.261.550
18.261.550
18.261.550
82.373.550
0,8264
0,6830
0,5842
0,4665
0,3855
15.091.345
12.472.639
10.668.398
8.519.014
31.755.004
Total present value of cashflow
Present value of investment
Net present value
78.506.400
66.187.000
12.319.400
Dengan menggunakan tingkat keuntungan yang diharapkan sebesar 21%, tenyata diperoleh NPV sebesar Rp 12.319.400,-. Artinya dengan NPV positif maka proyek ini layak untuk dilaksanakan.




Ø  Internal Rate of Return (IRR)

Tahun
Cashflow
DF (28%)
Present value of Cashflow
1
2
3
4
5
18.261.550
18.261.550
18.261.550
18.261.550
82.373.550
0,7812
0,6103
0,4768
0,3725
0,2910
14.265.923
11.145.024
8.707.107
6.802.427
23.970.703
Total present value of cashflow
Present value of investment
Net present value
64.981.184
66.187.000
-1.295.816

                                    Dengan demikian :
                        Rr = 21%                                 TPVrr = 78.506.400                NPVrr = 12.319.400
                        Rt = 28%                                 TPVrt = 64.891.184
                        IRR
                        IRR
                        IRR
                                    Dengan rate 27,32% akan menghasilkan Net present value = 0.
Ø  PI (Profitability Index)
PI
PI
Dapat dilihat bahwa hasil PI menunjukan angka 1,18% artinya lebih besar daripada 1 sehingga proyek investasi ini layak.
           

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dari kelompok kami bahwa pendirian usaha ini harus memperhatikan semua aspek yang ada. Mulai dari aspek pasar hingga keuangan atau finansial.
Berdasarkan hasil analisis kelompok kami mengenai aspek keuangan, semua metode penilaian untuk proyek investasi semuanya layak tidak ada satu metode pun yang menunjukan angka dibawah standar yang ditetapkan.
Dengan demikian proyek investasi ini layak untuk di jadikan bisnis yang menjanjikan bagi kelompok kami.

B.       Saran
Ø  Dalam mendirikan usaha sebaiknya dipersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan tepat sehingga usaha yang dijalankan dapat berjalan dengan baik.
Ø  Dalam berwirausaha diperlukan keyakinan, percaya diri, dan keuletan.
Ø  Seorang wirausaha haruslah selalu kreatif dan inovatif serta selalu mengikuti trend dan selera konsumen agar pelanggan tidak mudah bosan.
Ø  Semangat wirausaha harus selalu tertanam dalam diri kita.
Ø  Jangan mudah menyerah menghadapi berbagai hambatan dan masalah.





           

No comments:

Post a Comment